Kepuasan Kerja Karyawan, The Extra Miles dan The Dead End

Sumber: www.AnneAhira.com

Kepuasan kerja karyawan tak bisa diukur dengan imbal jasa yang dia terima saja. Tidak sedikit karyawan cemerlang yang meninggalkan perusahaan yang telah membesarkan nama, ilmu, dan keterampilannya bukan karena imbal jasa yang tak seimbang, tapi hanya karena sang karyawan tidak mendapatkan tantangan lagi di tempat tersebut.

Dari mana Datangnya Rasa Puas dan Tidak Puas dalam Bekerja?

Pada umumnya, karyawan tidak puas dengan perusahaan tempatnya bekerja bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya adalah:

  • Imbal jasa yang tak seimbang.
  • Berkonflik dengan atasan ataupun teman sekerja.
  • Jenjang karir yang tak jelas.
  • Peraturan yang berdasarkan rasa suka dan pilih kasih.
  • Terlalu banyak tuntutan dari perusahaan.
  • Terlalu lama berada di posisi yang sama sehingga menimbulkan kebosanan.
  • Terlalu nyaman yang membuat tidak nyaman lagi karena hilangnya tantangan yang dapat memacu adrenalin.

Apakah kepuasan kerja karyawan sama dengan kepuasannya terhadap perusahaan tempatnya bekerja? Mungkin ya, mungkin tidak. Ada karyawan yang tidak puas dengan tempatnya bekerja tapi karena dia masih senang mengerjakan tugas-tugasnya, dia tetap bertahan dan tidak ambil pusing dengan apapun yang dilakukan perusahaan terhadapnya.

Misalnya, seorang guru yang tetap bertahan di sebuah lembaga pendidikan bukan karena senang dengan lembaga tersebut, tapi karena terlanjur mencintai murid-murudnya. Guru tersebut bertahan karena murid-muridnya tersebut. Kepuasannya didapat ketika menyaksikan keberhasilan anak-anak didiknya.

The Extra Miles dan The Dead End

‘Love makes jobs like having vacation’ (cinta membuat kerja seperti liburan saja). Istilah ‘office blues’ atau sebel dengan kantor tak berlaku bagi orang-orang yang begitu mencintai pekerjaannya. Mereka rela bekerja lebih demi menggapai kepuasan batin tanpa memikirkan apakah perusahaan akan memberi imbalan lebih ataupun penghargaan. Mereka akan bekerja keras, bahkan mungkin juga lebih dari jam kantor. Semua pekerjaannya tak dirasakan sebagai beban.

Karyawan tersebut bahkan membuat target khusus untuk dirinya sendiri yang melebihi target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Apa yang dilakukannya tidak untuk mendapatkan pujian. Karyawan tersebut memang suka melakukannya dan mampu menyelesaikan semua target dengan sangat baik.

Bagaimana pun walaupun dia tak meminta apapun dari perusahaannya, karyawan seperti ini biasanya akan hengkang ketika pekerjaannya tak lagi memberikan kepuasan batin atau perusahaan tak bisa memberinya tantangan lain.

Inilah para karyawan ‘the extra miles’. Orang-orang yang sangat tekun, rajin, selalu ingin melakukan lebih dan memberikan service excellence baik kepada dirinya sendiri, rekan sekerja maupun perusahaan tempatnya bekerja. Mereka juga bisa disebut the man of commitment.

Sebaliknya ada karyawan yang tak mau dan mungkin juga tak mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Kerja yang ogah-ogahan, tapi menuntut imbalan yang banyak dari perusahaan. Tukang komplain pula. Posisinya dirasakan sebagai the comfort zone yang begitu damai dan nyaman. Karyawan seperti ini tak mempan diberi pelatihan ataupun motivasi.

Ini karena semua itu sudah menjadi darah dagingnya. Walaupun sudah dimutasi, dia tetap tak bisa berbuat banyak bagi dirinya apalagi bagi orang lain dan perusahaan. Inilah tipe karyawan ‘the dead end’. Dia sudah selesai. Hanya karena rasa iba dari perusahaanlah yang membuatnya tetap dipertahankan.

About dzakwan dafitoraffi

## "Hidup adalah gabungan antara bahagia dan derita. Ia adalah menguji keteguhan iman seseorang. Malangnya bagi mereka yg hanya mengikut kehendak hati tidak sanggup menerima penderitaan"".## ""Tanda Orang Bijaksana Ialah Hatinya Selalu Berniat Suci; Lidahnya Selalu Basah Dengan Zikrullah; Matanya Menangis Kerana Penyesalan (Terhadap Dosa); Sabar Terhadap Perkara Yang Dihadapi Dan Mengutamakan Akhirat Berbanding Dunia ""#
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.